Selevel Dengan yang Puasa

Maksud hadits ini adalah, orang yang tidak puasa namun bisa menahan diri dari maksiat pahalanya sama seperti orang yang berpuasa. Karena hakekat dari puasa adalah untuk melatih diri menghindarkan diri dari maksiat.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

“Hal-hal yang bisa menghalangi orang berbuat bermaksiat itu lebih banyak pada diri orang miskin. Sedangkan pendorong untuk maksiat pada diri orang yang makan itu lebih banyak.

Maka orang yang bisa mengendalikan dirinya dalam kondisi penuh nikmat, dan bersyukur atas nikmat tersebut, ini sebuah keistimewaan yang besar.

Orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika dalam kondisi mampu, ini sangat sedikit” [sumber: https://bit.ly/30C6KJK ].

Maka ath tha’im asy syakir (orang yang makan namun bersyukur) di sini maksudnya orang yang tidak puasa namun istiqamah melaksanakan kewajiban dan menghindarkan diri dari maksiat. Karena syarat bersyukur itu 2 :
1. Mengakui dan menyebutkan bahwa nikmat itu dari Allah
2. Menggunakan nikmat dalam ketaatan bukan maksiat.

Allah ta’ala berfirman :
“Bertaqwalah kepada Allah, agar kalian termasuk orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran: 123).

Wallahu a’lam.
– Ustadz Yulian Purnama

Leave a Reply

*